Penyangkalan diri dalam kehidupan orang percaya bukan sekadar menahan diri dari hal-hal tertentu, tetapi merupakan proses batin yang mendalam. Dimana terjadi sebuah perubahan orientasi hidup dari “aku sebagai pusat” menjadi “Tuhan sebagai pusat.”
Dalam konteks iman Kristen, penyangkalan diri berakar pada teladan Yesus Kristus, yang menunjukkan ketaatan total kepada kehendak Bapa, bahkan sampai pada pengorbanan diri.
Setiap manusia memiliki kecenderungan alami untuk mengikuti keinginan diri sendiri seperti ingin hidup dalam kenyamanan, ambisi, ego, atau bahkan dosa. Namun orang yang telah menyangkal diri berarti menyadari bahwa tidak semua keinginan itu benar atau membangun.
Kebanyakan orang menganggap penyangkalan diri sebagai sesuatu yang memperbudak dirinya, namun bagi orang percaya di dalam Tuhan, pemahaman akan penyangkalan diri sebagai suatu kebebasan. Kenapa.? Karena ketika seseorang menyangkal diri secara tidak langsung dia telah terbebas perbudakan emosi, ambisi bahkan dosa yang membelenggu diri secara pribadi dan hidup dalam kekudusan Tuhan.
Dalam 1 Petrus 1:14-19, kita diajak untuk memiliki sikap hidup sebagai anak-anak yang taat. Artinya, kita tidak lagi mengikuti cara hidup lama yang penuh dengan keinginan dosa. Dulu kita mungkin hidup tanpa arah yang benar, tetapi sekarang kita dipanggil untuk hidup berbeda, yaitu hidup dalam kekudusan.
Alasan utama mengapa kita harus hidup demikian adalah karena kita telah ditebus. Penebusan itu bukan dengan sesuatu yang biasa seperti perak atau emas, tetapi dengan sesuatu yang sangat berharga, yaitu darah Yesus Kristus. Pengorbanan Yesus menunjukkan betapa besar kasih Tuhan kepada kita.
Oleh karena itu, sikap menghargai darah Yesus dapat ditunjukkan melalui penyangkalan diri. Kita belajar meninggalkan dosa, mengendalikan diri, dan hidup sesuai dengan firman Tuhan. Dengan demikian, hidup kita menjadi respon yang nyata atas kasih dan pengorbanan Yesus yang telah menebus kita.